#top-social-profiles{height:42px;text-align:right}#top-social-profiles img{margin:0 6px 0 0px !important} #top-social-profiles img:hover{opacity:0.8} #top-social-profiles .widget-container{background:none;padding:0;border:0} .social-profiles-widget img{margin:0 6px 0 0} .social-profiles-widget img:hover{opacity:0.8}

Total Pageviews

Tuesday, 11 November 2014

Dengan siapa aku berbicara tentangmu?

Dalam sunyi....
Ku pejamkan mataku
Ku bayangkan dirimu
Ku lihat senyummu
Sungguh, Indahnya dirimu...

Dalam hening....
Ku pejamkan mataku
Ku bayangkan dirimu
Ku dengar suaramu
Sungguh, Indahnya dirimu...

Dalam malam....
Ku pejamkan mataku
Ku bayangkan dirimu
Ku lihat kamu bersenda gurau dengan seseorang disebrang sana, yang hanya dapat kau dengar suaranya.
Apakah itu aku? Kuharap itu aku.

Dalam hangatnya sinar mentari....
Ku pejamkan--- Tidak, cukup untuk melihatmu yang hanya ada dalam bayangan.
Cukup untuk melihat semua tentangmu yang hanya ada dalam angan.

Dalam rindu, aku mencoba bertahan.
Dalam cinta, aku coba bertahan dan mempertahankan.
Apa yang aku pertahankan? Rasa.

Rasa? 
Iya rasa.
Cinta? 
Iya cinta.
Untuk siapa?  
Untuknya.
Dia?  
Iya, dia yang selama ini ada. Yang kusebut sebagai....
Sebagai apa?  
Mr. Friedrice
Tapi.... Apakah?
Iya aku tahu.
Tetapkah kamu bertahan? 
Iya.
Bagaimana dengan hatimu? 
Akan baik-baik saja.
Bagaimana dengan dirinya? 
Kuharap dirinya sama sepertiku.
Sama?
Iya, memiliki rasa yang sama,melakukan hal yang sama,merindukan---
Pernahkah kamu dirindukan? 
Kuharap pernah. Atau mungkin memang pernah.
Apa kau hanya bisa berharap?  
Memang hanya itu yang bisa aku lakukan.
Bertindak?  
Bertindak apa? Memaksanya untuk merindukanku juga? Memaksanya untuk mencintaiku juga? Tidak bisa.
Kenapa?  
Cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan. Cinta datang karena terbiasa.
Bagaimana kalau dia tidak pernah terbiasa?  
Jangan tanya aku.
Mengapa? 
Karena aku tidak tahu.
Cari tahu? 
Tidak.
Kenapa?  
Itu akan mengganggunya.
Apakah dia akan tetap terganggu jika yang bertanya itu kamu?
Mungkin saja.
Bukankah kamu orang yang dicintainya?
Cukup.
Kenapa?
Aku ingin---
Mundur?
Tidak.
Lalu?
Aku ingin melanjutkan melihatnya dalam bayangan.
Lihat langsung?
Sulit.
Kenapa?
Dia jauh.
Jauh?
Iya.
Bukankah hanya beberapa langkah?
Itu rumahnya, bukan dirinya.
Jadi dirinya jauh?
Tidak juga.
Lalu apa?
Sulit menemukan waktu untuk bertemu.
Kenapa?
Dia sibuk.
Dengan yang lain?
Bukan.
Lalu?
Dengan sekolahnya,mungkin.
Kau ragu?
Tidak.
Kau mencintainya?
Iya, tentu.
Amat sangat mencintainya?
Iya.
Kenapa?
Aku tidak punya alasan mengapa aku mencintainya.
Kenapa?
Karena jika aku masih memiliki alasan dalam mencintai, maka yang aku rasakan bukanlah cinta.
Lalu apa?
Kalkulasi, ketertarikan sesaat.
Jadi, kau akan terus menunggunya?
Iya.
Apa yang kau tunggu?
Sesuatu yang tak perlu kau tahu. 
Jadi dia tidak tahu bahwa kau menunggunya?
Kuharap tahu.
Lagi-lagi berharap. Tidak bosan?
Mengapa harus bosan?
Baiklah kalau begitu. Kau memang sulit ditebak jika sudah cinta.
Itulah aku.
Tetaplah bertahan, walaupun akan berujung---
Tidak akan ada ujungnya.
Benarkah?
Iya. Penantianku tidak akan berujung, begitupun dengan cintaku.
Kuharap ia sama sepertimu.
Kau berharap juga?
Iya. Karena aku adalah kamu.
Sudah kuduga.


Entah dengan siapa aku berbicara, topiknya memang hanya kamu. Terimakasih telah memenuhi hati dan pikiranku. Aku mencintaimu.