Sepoi sendu yang hadir disaat aku benar-benar pasrah akan apa yang ada dihadapan, semilir gundah yang kian merasuki diri dan turut menghisap warna hidupku menjadi semakin pudar dan abu-abu.
Iniliah duriku......
Bagai duri yang bernyawa, yang menghendaki pergerakannya sesuka hati, meninggalkan rasa yang tak tergambar oleh kata, bukan karena rasa itu indah membuncah, tapi karena rasa itu menoreh sesuatu bernama sesak dan gundah.
Bagai duri yang bernyawa, menohok apa saja yang ada dihadapannya, bagai jarum yang meletuskan balon hijau, membuat semuanya kacau.
Bagai duri yang bernyawa, menusuk tanpa belas, menggores tanpa kasih, dan pergi tanpa pamit.
Bagai duri yang bernyawa, meninggalkan bekas yang disebut dengan luka, luka mendalam yang membuat tetesan darah patah hati mengalir begitu deras, menimbulkan rasa sesak yang memenuhi rongga dada, menahan oksigen menyapa untuk sekedar aku menghela, menyisakan aku yang mati karena sesak, mati karena gundah, mati karena tak tahu arah untuk memulihkan semua.
Duriku, bagai duri yang bernyawa.
(Saturday, June 6th 2015. Cahya Puteri Abdi Rabbi.)
