Aku berangkat ke sekolah dengan seragam SMP dan bergabung dengan teman-teman baruku setibanya ku di sekolah. Oiyaa.. Perkenalkan namaku Clarissa Patricia Andova Rossy, panjang yaa? hehe.. Aku biasa dipanggil Clare atau Dova.
Pada masa orientasi aku masuk di Ruang Jeruk, teman-temanku di ruang jeruk itu... emm... yaa lumayan seru tapi... sepi banget-,- banyak yang malu pula-_- agak bete ya hehe...
***
3 Hari aku menjalani masa orientasi dan akhirnya aku memakai seragam putih abu-abuku di hari pertama masuk sekolah dan resmi menjadi siswi di SMA ku dan akan ikut belajar efektif :).
Setelah masa orientasi selesai, ternyata kami, anak-anak baru tidak langsung mengikuti belajar efektif di kelas masing-masing. Kami mengikuti acara Training Motivasi yang diadakan oleh sekolah. Seluruh siswa kelas 10 dikumpulkan dalam satu ruangan. Pada saat Training Motivasi berlangsung, aku melihat sosok yang menarik perhatianku. Sosok laki-laki yang tampan dan ahh yaa.. aku rasa aku memiliki ketertarikan lebih terhadapnya. Hey Dova! Kamu baru saja melihatnya, bahkan namanya saja kamu tidak tahu! Ahh sudahlah lupakan!
Dari hari ke hari entah kenapa aku makin penasaran dengan sosok itu. Aku berusaha mencari informasi tentang dirinya dan yang aku tahu namanya adalah Arial Dovi Kamil. Kenapa namanya hampir sama denganku? Dova-Dovi?
Aku pun membuka jejaring sosial favorit ku, Twitter. Aku mencoba mencari akun twitternya dan..... ketemu!! Akhirnya aku follow dan minta follback haha.. *baladaanaktwitter.
"@clarissa_dova11 : Hey @ArialDoviKamil10 follback ya thanks :)" dan 1 jam kemudian.... "@ArialDoviKamil10 : Hey udah di follback ya.. salam kenal :) @clarissa_dova11"
aaaa... seneng banget sumpahhhh!!! Akhirnya aku dan dia saling berkirim pesan lewat Direct Message sampai akhirnya dia minta nomor handphoneku. Sejak saat itu 'pdkt' kami berlanjut melalui sms dan aku tahu bahwa dovi baru putus dari pacarnya dan masih belum bisa move on :') hiks..
***
"Dov! Lu lagi deket sama si Dovi ya?" tanya Nabila, sahabatku sejak masa orientasi. "Hehe iyaa.. kenapa?" Jawabku. "Emm.. gapapa kok. Nanti kalo udah jadian bagi PJ yaaa :p" ledeknya. "Apaansih lu-__-" Ujarku jengkel.
1 bulan lebih aku menjalani 'pdkt' dengan Dovi dan sering mendapat ejekan dari teman-teman karena kelamaan pdkt-_-
Tanggal 13 Agustus 2013. Aku terbangun tepat jam 5 pagi karena mendengar salah satu lagu 1D penanda dering telepon berbunyi di handphoneku.
"Hallo Assalamualaikum.." Sapaku pada suara disebarang sana.
"Waalaikumsalam. Dovi ganggu ya?" Jawabnya. Wait!! Dovi? Ini beneran Dovi? Ngapain dia nelpon aku pagi-pagi gini?._.
"Engga kok. Ada apa Dov?" Tanyaku.
"Emm gini.. Dovi cuma mau bilang, Dova mau ga jadi pacar Dovi?"
"Ha?" Tanyaku tidak percaya.
"Iyaa.. mau ga?" Tanyaku lagi.
"Emm.. Iya Dova mau." Jawabku malu-malu.
"Beneran Dov?"
"Iyaaa Doviii.."
"Asikk pacarannnnn:p" Kata Dovi girang. Aku hanya tertawa dengan suasana hati yang berbunga.
Terimakasih Tuhan.. Buatlah hubungan ini menjadi yang terbaik dan yang terakhir untukku dan untuknya...
***
1 bulan kami menjalani hubungan dan masih terasa manis. 2 bulan kami menjalin hubungan masih terasa manis juga. menjelang 3 bulan mulai banyak terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil,sepele dan tidak jelas apa penyebabnya. Pernah pada suatu saat...
"Kamu tuh , gabisa dipercaya Dov!" Ucapnya yang marah tiba-tiba.
"Loh? Kamu kenapa? Aku salah apa?" Tanyaku heran.
"Pikir sendiri!" Jawabnya dan langsung meninggalkanku di sekolah tanpa menoleh kepadaku.
Sampai dirumah, aku mencoba menghubunginya. Namun tak ada satupun yang digubrisnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa salahku. Sampai pada akhirnya aku mengetahui bahwa Dovi cemburu karena aku satu kelompok dengan laki-laki. Dia memang tidak menyukai aku dekat dengan laki-laki manapun, sekalipun itu sahabatku.
Ada salah satu teman SMP ku yang bilang kalau aku dan laki-laki itu punya hubungan lebih selain teman, dan Dovi percaya dengan semua fitnah itu. Aku berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa dengan temanku itu. Tapi Dovi tetap bersikeras bahwa aku salah.
Keesokan harinya, aku pergi menemui Dovi yang sedang ada kegiatan di sekolah. Aku mencoba berbicara dengannya tapi tatapan dan sikapnya yang sangat dingin membuatku takut.
"Dov, dipanggil Dova tuh." Panggil temanku dan Dovi menjawab,
"Bodo!"
"Parah lu. Kasian Dova." Ucap temanku lagi. Dan lagi-lagi Dovi menjawab,
"Bodo."
Dovi beranjak dari duduknya dan ingin pergi tapi tanganku segera mencegahnya.
"Dov, aku minta maaf. Aku gaada apa-apa sama dia. Kamu jangan percaya gitu aja sama omongan orang lain. Aku mohon maafin aku." Aku menggenggam tangannya dengan gemetar dan sambil meneteskan air mata. Dan Dovi hanya menjawab,
"Yaudah iya." Lalu menghempaskan tanganku dan pergi begitu saja.
Aku pasrah. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan agar Dovi memaafkanku. Dirinya yang keras kepala dan selalu ingin menang membuatku selalu mengalah.
***
Semua kejadian manis dalam hubungan ini aku rasa sudah habis masa berlakunya. Kini tinggal semua kejadian pahit yang selalu terjadi. Mulai dari pertengkaran yang lebih sering terjadi, Dovi yang sudah jarang mengirimiku pesan singkat dan selalu aku yang memulai, ditambah lagi satu kejadian yang membuatku sakit hati luar biasa.
Sekolahku mengadakan karya wisata sekaligus perkemahan di luar kota, namun tidak semua siswa ikut karena keterbatasan biaya dan kepentingan belajar di sekolah. Aku tidak mengikuti acara tersebut karena banyak ulangan harian yang bertepatan dengan kegiatan acara itu. Namun Dovi mengikutinya, ingin menambah pengalaman katanya.
Kurang lebih 10 hari Dovi pergi dan jarang sekali memberiku kabar. Entah apa yang dilakukannya diluar sana. Semoga tidak mengarah kepada 'bahagia dengan yang lain'.
10 hari berlalu dan akhirnya Dovi pulang. Aku senang dapat melihat wajahnya lagi. Berlebihan memang, tapi itu yang namanya rindu. Tapi... setelah pulang dari acara itu aku merasakan sesuatu yang beda dari dirinya. Dia lebih sering berkumpul dengan orang-orang yang waktu itu ikut pergi dan mengabaikanku. Semua tweetnya pun seperti orang yang sedang jatuh cinta (lagi). Apa jangan-jangan dia memang sedang jatuh cinta lagi?
Aku mencoba mencari informasi tentang apa saja yang dilakukan Dovi selama disana dan ternyata benar. Dovi melakukan hal yang sangat aku khawatirkan. Menurut informasi yang aku dapat, Dovi sering sekali bercanda dan dekat dengan salah satu teman sekolahku yang juga ikut acara itu.
Pernah pada saat aku sedang duduk di depan Dovi dan perempuan yang 'menurut informasi' adalah perempuan yang ditaksir Dovi yang namanya Andina Prisilla lewat, mata Dovi tak berkedip dan selalu memandang cewe itu tanpa sedikitpun sadar bahwa aku ada di depannya. Dan mulai saat itu, aku menyimpan semua rasa sedih,nyesek,kesel,dan marah ku sendirian. Aku tidak mau mengungkit ini, karena aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam hubunganku. Dovi tidak pernah mengetahui bahwa aku tau apa yang sebenarnya terjadi, makanya ia terlihat sangat tenang dan seperti tidak bersalah.
***
Mulai dari situ banyak sekali pikiran yang menggerayangi pikiranku sampai aku jatuh sakit dan dokter mengatakan penyakitku bukanlah penyakit yang main-main.
Aku mengeluhkan rasa sakitku kepada Dovi,
"Dov, kepala aku kok sakit banget ya.." Keluhku.
"Kenapa emang?" Tanyanya.
"Gatau nih.. sakit banget daritadi.." Jawabku.
"Ohh.." Responnya.
Hanya Oh Dov? Hanya Oh? Ya Tuhan.. Apa memang aku tidak lagi penting baginya?
Aku merasakan diriku akan pergi tidak lama lagi karena penyakitku. Aku pun mengajak Dovi pergi untuk sekedar lari pagi. Di tempat lari pagi aku benar-benar diabaikan.
"Dov, kamu pergi berdua kan sama aku?" Tanyaku.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Emm.. kita foto yuk?" Pintaku.
"Engga ah. Males." Tolaknya.
"Hmm yaudah. Kita istirahat dulu ya disini?" Pintaku lagi.
"Engga, gue masih mau lari." Tolaknya lagi.
"Tapi aku capek."
"Ribet ye! Yaudah gue mau lari." Bentaknya dan pergi meninggalkan aku yang terpaku duduk tak percaya baru saja dibentak oleh orang yang awal kenalan sangat lembut.
Yang aku inginkan saat itu adalah menangis, tetapi kondisi tempat tidak memungkinkan. Akhirnya aku menyusul Dovi yang sudah sangat jauh. Dengan nafas yang terengal dan dipaksa aku tetap menyusulnya.
"Lama banget sih lu!" Ucapnya marah, setibanya aku di tempat dia duduk.
"Maaf tadi aku beneran capek banget."
"Oh."
"Dov, aku iri deh ngeliat orang yang pacaran lari paginya beriringan, sebelahan, saling tunggu, trus foto bareng. Kapan ya aku bisa gitu sama kamu? :')" Ucapku sambil menahan air mata.
"Au."
"Hmm.. Aku capek. Kita pulang yuk?"
"Ah lu mah capek mulu ye! Yang ngajak kesini siapa?"
"Aku, tapi..."
"Nah yaudah diem gausah bawel."
"Tapi Dov, kepala aku pusing banget, kamu ga liat aku udah pucet?"
"Over lebay!"
"Astaghfirullah.. Kenapa aku selalu salah sih? Yaudah aku pulang duluan. Kamu hati-hati disini." Aku pergi ninggalin Dovi dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku langsung mengalami kejadian yang tak pernah kukira sebelumnya.
Aku mengalami sakit kepala yang luar biasa, dan tak lama kemudian hidungku mengeluarkan darah segar badanku mengeluarkan keringat dingin dan akhirnya semua....... gelap.
***
Aku terbangun di ruangan putih dan banyak sekali orang berjas putih di ruangan tersebut. Dokter menyadari bahwa diriku sudah siuman dan memeriksaku dengan berbagai peralatannya. Aku dipindahkan ke ruang perawatan. Aku segera meminta handphoneku yang dipegang oleh bunda. Ternyata tidak ada satupun pesan dari Dovi. Apa dia tidak mengetahui keadaanku yang sebentar lagi mungkin akan pergi?
Aku mulai mengetik sebuah pesan kepada temanku, aku menganggapnya pesan perpisahan.
Kasih tau yang lain yaa.. Gue minta maaf kalo ada salah kata,perbuatan atau apapun yang bikin mereka sakit hati. Gue sayang sama mereka. Kalo gue udah gaada jangan nangisin gue ya. Kalian boleh nangis, tapi sehari aja. Dan inget setelah jasad gue dikubur, kalian semua gaboleh sedih, harus kembali seperti semula. Gausah mikirin gue. Anggep aja kalian ga pernah kenal sama gue.
Bilang Dia juga, gue sayang sama dia. Gue ngerasa semua yang kita jalanin ini udah ga sama kaya dulu. Lu lebih cuek sama gue, lu gapernah menghargai keberadaan gue, lu selalu nganggep gue salah, lu selalu jadiin gue pelampiasan kekesalan lu, tapi apa yang gue lakuin? Gue sabar. Lu tau kenapa gue sabar? Karena gue sayang sama lu dan gue bertahan sampai gue menutup mata sebentar lagi. Gue sayang sama lu. Semoga wanita setelah gue yang beruntung dapet kasih sayang lu ga berakhir kaya gue juga ya :') Gue kangen lu panggil bawel, gue kangen lu panggil sayangku, gue kangen lu panggil cintaku, gue kangen lu panggil jelek, gue kangen semuanya yang dulu. Tapi.. gue ga bakal ngerasain itu lagi, karena gue harus segera pulang. Gue udah cape disini. Baik-baik ya disini. Gue sayang lu, gue sayang kalian... :')
Setelah kukirim pesan itu, aku menatap ayah dan bundaku.
"Ayah,Ibu. Maafin aku ya selama ini aku belum bisa jadi anak yang baik. Aku harus pergi. Aku pulang yaa.. aku sayang Ayah. Aku sayang Ibu :')"
Setelah mengucapkan itu, aku menghembuskan nafas panjang untuk terakhir kalinya. Mataku tertutup dan bibirku mengatup senyum tipis.
Selamat tinggal semua...
Setelah kukirim pesan itu, aku menatap ayah dan bundaku.
"Ayah,Ibu. Maafin aku ya selama ini aku belum bisa jadi anak yang baik. Aku harus pergi. Aku pulang yaa.. aku sayang Ayah. Aku sayang Ibu :')"
Setelah mengucapkan itu, aku menghembuskan nafas panjang untuk terakhir kalinya. Mataku tertutup dan bibirku mengatup senyum tipis.
Selamat tinggal semua...
No comments:
Post a Comment